Pucu’an

Hola! Gimana nih kabar teman-teman semua? Sudah memulai hari ini dengan bersyukur? Hehe. Kali ini aku bakal post sebuah pengalaman yang tidak pernah aku lupakan! Pengalaman ini berhubungan dengan satu kata yaitu: Pucu’an. Ini bukan sekedar Bahasa Jawa yang artinya diujung yaa (baca: pucuk-an). Bukan juga salah satu merk minuman teh. Tapi Pucu’an bagi saya, lebih dari itu. Tapi kalau dipikir-pikir, nama tersebut juga tepat menggambarkan tempat tersebut. So, this is how the story begin.

Desa Pucu’an adalah suatu tempat yang (menurut saya) cukup terletak di “pucuk” (Baca: ujung) bagian Kota Sidoarjo. Tempat ini seperti “pulau” tersendiri di tengah hiruk-pikuk kota Sidoarjo yang semakin hari semakin ramai saja.

Untuk mencapai ke Desa Pucu’an ini, kita harus menaiki sebuah perahu kecil dan menyebrangi sungai selama kurang lebih 2 (dua) jam. Sebenarnya bisa juga diakses lewat darat, tapi jalannya sempit dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Cukup berbahaya juga untuk dilewati saat musim hujan. Tapi pemandangan di Desa Pucu’an keren!

IMG_1560.JPG
Ini bukan lagi naik perahu di Italia, tapi di Sidoarjo

So, gimana ceritanya aku bisa sampai sana? Waktu itu di SMAku (pertengahan tahun 2015) ada program live-in. *I am so excited* Di mana kita seluruh siswa tingkat akhir harus memilih sebuah tempat dan melayani di sana. Hmm, dan pikiranku langsung membuat peta tempat mana saja yang akan kudatangi. Rasanya ingin challenge diri untuk jadi guru. Asik kali yaa… Akhirnya kita satu kelas membentuk beberapa kelompok. iForest!: I for Education and Social Treatment. That’s our team’s name. Teman satu kelompokku adalah : Veny, Nadia, Yolanda, Bagas, Ronaldo, Davin dan Adriel.

IMG_20151013_174830.jpg
iForest. dari Belakang ke depan Bagas, Davin, Sarah, Adriel, Veny, Yolanda, Ronaldo, Nadia.

Kami berdelapan berpikir dimana tempat yang cocok buat kita melayani. Kalau panti asuhan sih sudah mainstream banget. Akhirnya, setelah berdiskusi sangat panjang, Yolanda mengusulkan salah satu tempat di mana gerejanya memang melakukan pelayanan di sana. Yaitu Desa Pucu’an. Terdapat 30 kepala keluarga (KK) di desa tersebut. Selain tempatnya yang cukup unik, Desa Pucu’an juga memiliki sebuah sekolah TK dan SD. *tepat sekali bisa buat ngajar nih*. Akhirnya kita sebagai siswa SMA dan warga negara yang baik memutuskan untuk ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa *asekk*.

Setelah mengorek informasi lebih dalam tentang Desa Pucu’an, mempersiapkan materi ajar, transportasi dan tempat tinggal selama di sana…. Tanggal 12-13 Oktober 2015 kami berangkat menuju Desa Pucu’an

Dua hari satu malam jadi pengalaman yang sangat berharga. Di sana kami tinggal di rumah Bu Tatik yang juga salah satu guru Taman Kanak-kanak (TK) di Desa Pucu’an. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, kami sudah disambut sekawanan kambing dan ayam. Kumuh dan bau adalah kesan pertama yang kami rasakan, sampah pun juga berserakan dimana-mana. Oh sambutan yang lain adalah… signal Handphone (HP) hilang.

IMG_1626.JPG
Rumah Bu Tatik

Setelah tiba di sana sekitar pukul 09.00 dan kami bergegas untuk menaruh barang bawaan kami di rumah Bu Tatik dan langsung menuju ke sekolah untuk mengajar (sebelumnya sudah membuat ijin). Ada sekitar 15-20 anak kurang lebihnya. Ironisnya ada beberapa anak yang tidak menduduki kelas yang seharunya. Mereka yang seharusnya kelas 5 SD terpaksa tinggal kelas, mereka yang seharusnya SMP masih memakai seragam putih-merah. Entah apa yang terjadi. Untuk meneruskan ke jenjang SMP terdekat, mereka juga harus menyeberangi sungai terlebih dahulu. Ironis-Ironis-Ironis.

Pada hari pertama, biasalah semua diawali dengan berdoa menurut keyakinan masing-masing. Setelah itu kami melakukan perkenalan nama, hobi dan cita-cita. Ada yang ingin menjadi guru, polisi, pemain sepak bola, bahkan pemain orkes. Melihat mereka begitu percaya diri dan keyakinan mereka membuat bagian dari refleksi kami. Setelah itu kami melanjutkan dengan pelajaran Bahasa Inggris.

20170110_164445
Foto satu kelas

Belum berakhir pelajaran Bahasa Inggris, mereka sudah ingin pulang saja. Katanya sih, mereka tidak terbiasa jika harus sekolah lama-lama. Kelas hanya dimulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 11.00 setiap harinya. Hmmm, aku langsung membayangkan sekolah di kota yang memakan waktu kurang lebih 7 (tujuh) jam! Beda sekali yaa… Terpaksalah kami akhiri pelajaran hari itu….

1444734339173.jpg
Bu Tatik yang pakai selendang biru.

Sore pun tiba, sinar matahari semburat indah di dekat tambak. Ya, mayoritas kepala keluarga di Desa Pucu’an berprofesi sebagai nelayan di tambak yang terletak tepat di depan rumah penduduk. Sore yang indah itu kami tutup dengan bermain sepak bola bersama. Meski aku gak bisa main sepak bola, ya udah di bisa-bisain aja demi menjalin keakraban dengan anak-anak di Desa Pucu’an.

IMG_20151012_155300_HDR copy.jpg
Menghabiskan waktu sore

Dan, eitsss belum berakhir nih ceritanya. Masih banyak banget cerita seru. Mulai dari tidur malam yang menyeramkan, mandi tanpa lampu dan air, sampai kejadian mengharukan waktu perpisahan. Di tunggu yaa part 2 nya, Soon!!!

 

Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, in all the places you can, at all the times you can, to all the people you can, as long as ever you can

-John Wesley

Iklan

5 tanggapan untuk “Pucu’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s