Pentingkah Sebuah Ekspektasi?

“Kenapa ya, semua yang sekarang terjadi kok tidak sesuai dengan ekspektasiku?”

Pertemuan beberapa hari yang lalu membawa aku pada sebuah titik baru dalam lembaran kertas hidupku.

“Sorry ya Sar, aku baru ngomong dan aku PHP (pemberi harapan palsu, red),” ucap salah satu rekan kerjaku yang menutup pembicaraan pagi itu.

Sedikit shock mendengar ucapannya. Hal yang ada di perasaanku, sebenarnya aku biasa saja, tapi kalau mau jujur, adalah lah satu bagian hati kecil yang gimana gitu.Tidak bisa dideskripsikan

“Ya, nggak salah kalau kamu merasakan itu. Toh kamu masih manusia. Santai saja Nothing to lose. Itu terjadi juga bukan karena salahmu” ungkap mentorku setelah aku curhat soal kejadian pagi itu.

Tapi, masalah yang sebenarnya adalah:

Bukan salahku. Kenapa bukan salahku, tetapi harus terjadi?

Setidak-tidaknya pernah pasti kita mengalami kejadian seperti:

Diselingkuhi pacar padahal sudah setia mati-matian. Dapat nilai jelek, padahal sudah belajar sungguh-sungguh. Sudah berusaha menyiapkan presentasi sebaik mungkin, tapi nggak ada yang mendengarkan. Di tipu rekan kerja, padahal sudah jujur pakai banget. Bahkan nggak ada angin nggak ada hujan, orang yang kita kasihi harus meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Kabar baiknya. Ya, ini kabar baik. Itu semua terjadi dan melekat di setiap kehidupan kita. Memang terjadi tanpa pernah kita minta sekalipun. Yaelah, boro-boro minta, mikir gituan aja mungkin nggak pernah.

Kalaupun sempat berpikir soal itu paling langsung ketok-ketok meja disebelah kita sambil bilang “amit-amit”. Kita memang hidup dengan permainan-permainan seperti itu.

Tapi, tapi, kabar buruknya yang muncul adalah respon:

“Ah, nggak usah berekspektasi, karena ekspektasi itu akan menyakitkan.”

Ok. Ok. Coba bayangkan. Di dalam hidup, manusia selalu dipenuhi oleh keinginan. Ya, ya naturnya saja manusia diciptakan dengan free will. Will berarti keinginan. Jadi kalau hidup tanpa keinginan dan ekspektasi kok ya rasanya… Hampa. Kayak Ari Lasso. Ekspektasi timbul dari keinginan. Contohnya kita berkeinginan untuk tidak disakiti oleh pasangan kita.

Tapi, sadar atau nggak, ekspektasi sebenarnya adalah sebuah batasan. Sekat yang membuat agar sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Kalau melenceng dari koridor itu, kita akan dengan mudah menjadi orang yang lemah dan putus asa. Tak ayal muncul pernyataan di atas. “Nggak usah ekspektasi terlalu tinggi, nanti sakit.”

Ok. Ok. Terus bagaimana donk seharusnya?

Kita bisa mengubah fokus kita dari sesuatu masalah yang kita hadapi kepada sebuah term baru: Harapan.

Ok. Ok. Mungkin sekali lagi ini terdengar klise. Tapi harapan sangat berbeda dengan eskpektasi.

Harapan adalah sebuah kebebasan bagi kita untuk terbang. Saat kita merasa tersakiti dengan ekspektasi yang tak terpenuhi, ada harapan yang membuat kita bangkit kembali.  Contohnya ada harapan bahwa suatu saat kita akan bertemu dengan pasangan yang tepat.

Ok. Ok. Tapi, susah buangettt berharap di saat semua situasinya belum berubah.

Nah ini, ini. Manusia selalu mengaharap perubahan besar, sehingga kadang menutup mata untuk perubahan yang kecil namun substansial. Kayaknya Tuhan kurang keren kalau cuma sebatas merubah situasi. Jadi, yang Dia lakukan adalah mengubah karakter.

“Kalau kamu sudah benar, tapi sesuatu yang nggak terjadi sesuai dengan apa yang kamu ekspektasikan, itu berarti Tuhan sedang ubah karaktermu,” kata papaku saat aku bercerita tentang apa yang aku alami akhir-akhir ini. Karakter untuk mau berserah, mengosongkan diri, dan menaruh semua harapan kita ke tangan Tuhan.

Saat karakter berubah, cara pandang kita pun berubah. Tak lagi berfokus pada gagalnya sebuah ekspektasi, tetapi munculnya sebuah harapan-lah yang esensi

Ngomong apa to, Sar” Hahaha. Ok. Ok. Agak serem juga saat harus menulis pemikiran ini.

Intinya, tulisan ini bukan bermaksud untuk menghakimi, tetapi untuk membantu memahami.

Apa yang sebenarnya terjadi.

Tulisan ini secara tidak langsung membantu saya untuk meresapi

apa yang saya tulis ini.

Ya, hitung-hitung menguatkan diri sendiri

Sembari berbagi.

Semoga bermanfaat!

 

Kekecewaan lahir karena ekspektasi yang tidak terpenuhi. Tapi harapan akan datang saat kita tahu, bahwa Tuhan selalu ada di setiap kekecewaan yang kita alami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s