Surabaya Takkan Sama Lagi

Kejadian hari ini sebenarnya tidak berbicara tentang gereja. Ataupun Surabaya. Apalagi Indonesia. Tapi karena manusia. Manusia yang biadab.

Ucapan selamat pagi hari ini dibuka dengan berita pengeboman oleh teroris di gerjea Katolik Santa Maria tak Bercela di Surabaya. Masih baru bangun dengan setengah nyawa, aku bertanya dengan papaku yang memberitahukan informasi itu sebelum media massa memberitahukan informasi tersebut.

“Ini ada di WA, tapi masih WA, bisa aja HOAX, belum pasti jadi jangan disebarkan dulu,” ucap papaku.

Setelah melihat unggahan di WA, aku menyalakan TV berharap sudah ada informasi mengenai kejadian tersebut. 10 menit berlalu, baru sebuah berita muncul dan mengonfirmasi kebenaran berita yang tersebar lewat media sosial tersebut. Hingga tulisan blog ini diturunkan, berita masih terus di-update.

Saat ada peristiwa yang cukup besar, pasti ada saja following Instagram yang berkomentar ataupun sekedar memberi informasi mengenai berita tersebut. Apalagi dari segi proximity sudah sangat terasa. Iya di Surabaya. Benar saja, saya menemukan beragam konten yang berkaitan dengan berita tersebut. Ada yang membuat saya manggut-manggut sampai geleng-geleng kepala.

Beberapa orang memilih untuk mengunggah gerakan #kamitidaktakut dan imbauan kepada orang lain untuk tidak menyebarkan video atau foto mengenai korban ataupun kerusakan yang ditimbulkan. Saya setuju karena terorisme bukan hanya menghancurkan gedung, tetapi juga keberanian manusia.

Imbauan untuk berdoa hingga gerakan #TerorristHasNoReligion juga bermunculan. Beberapa teman juga mengunggah saran untuk tidak saling menuding pihak yang bersalah. Saya setuju. Menuding salah satu pihak mereka yang bersalah hanya akan memperkeruh suasana. Bukan saatnya untuk mencari siapa yang salah, itu hanya akan memecah.

Di antara banyak konten, ada hal yang buat saya geleng-geleng kepala. Situasi genting seperti ini masih dimanfaakan oknum yang nyinyir di media sosial pribadinya demi keperluan politik.

Ada juga yang bilang “Katanya tidak takut, tapi ibadah kok ditiadakan semua”. Woho, saya cuma bisa geleng-geleng kepala dan bingung harus menanggapi apa. Saya rasa kita semua sudah punya kemampuan untuk menalar dan membedakan mana yang seharusnya kita lakukan.

Intinya, netizen di Indonesia punya beragam komentar terhadap suatu kejadian. Salah? Saya kira kok tidak, setiap orang punya kebebasan untuk berekspresi. Hanya saja, apakah itu esensi? Siapa kita, dapat dinilai dari apa yang kita utarakan termasuk di dalam media sosial.

Jangan sampai sudah menyuarakan #kamitidaktakut tapi sejujurnya masih takut untuk keluar rumah.

Jangan sampai lupa berdoa padahal sudah mengunggah imbauan untuk berdoa bersama bagi Surabaya.

Belum lagi menyuarakan untuk meningkatkan toleransi, tetapi masih menyimpan diskriminasi

Pertanyaan yang saya pikirkan saat ini: Setelah kejadian ini, bagaimana nasib Surabaya kelak?

Iya, saya berharap tidak akan sama lagi

Bukan cuma berbicara soal gedung yang rusak dan diperbaiki

Tapi juga pada rasa kemanusiaan yang bertumbuh

Saya berharap Surabaya tak sama lagi

Semakin meningkat rasa kekeluargaanya

Yang dulunya pasif

Sekarang rasa kesatuannya menjadi massif

Sembari mendobrak intoleransi untuk tidak saling menyalahkan

Satu hal yang saya yakini tak berubah

Kota Pahlawan, takkan pernah bisa di lawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s