Bali: Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Tepat pukul 22:35 waktu Bali.

Lagi-lagi Bali. Kalau minum obat dua kali sehari, kunjungan ke Bali bisa setahun dua kali.

Iya, memang benar, rasa-rasanya Bali sudah menjadi obat yang adiksi
Ia bisa mengobati otak dari segala kepenatan yang aku hadapi sehari-hari.
Tugas, relasi, organisasi.

Hingga sekarang, sudah tak terhitung berapa kali Bali kukunjungi.

Bukan mengeluh karena bosan, tapi bersyukur diberi kesehatan untuk menikmati

Pertanyaannya sekarang adalah: kenapa harus Bali?

Pantai? Ya salah satu jawabannya.
Kalau banyak yang bertanya mana yang aku pilih: gunung atau pantai,
Dengan yakin aku akan menjawab pantai
Lengkap dengan pasir putih, dan indah terbenamnya mentari
Kapan-kapan aku akan ceritakan mengapa aku begitu menyukai pantai.

Tapi Bali tidak hanya soal pantai. Bali lebih dari itu, cinta pertamaku sejak kecil.
Kota pertama yang aku kunjungi selain kota kelahiranku.

Sejak kecil sudah berkenalan dengan Bali, meski belum seluruhnya.

Menginjak usia sekolah dasar, aku mulai mengenal tempat fenomenalnya
Ah tapi aku yakin, kau pasti tahu tempat ini: Pantai Kuta, Pasar Sukawati, dan sekitarnya.

Bali juga menjadi saksi bisu perjalanan pertamaku ke luar kota selama satu minggu bersama-sama teman-teman SMA selepas kami selesai UNAS. Lagi-lagi Bali menjadi tempat rujukan untuk melepas kepenatan.

Dan kini, meng-explore Bali yang semakin membuatku semakin jatuh cinta padanya.
Sate Babi Bawah Pohon, Babi Guling Pak Malen, Gaya Gelato
Desa Penglipuran, Green bowl beach, Melasti beach dan lainnya.

Bali juga mengajarkanku apa itu kebersamaan, pengorbanan, pertemuan, dan perpisahan.

Bali juga menjadi tempat penuh cerita dan romansa.

Hingga kini banyak memori yang tertinggal di Bali. Rasanya setiap tempat yang aku kunjungi bahkan aku lewati punya cerita tersendiri

Kini, aku berharap tak lagi mengenal Bali  sebatas pada tempatnya, tetapi mulai mengenal jiwanya.
—-
“Aku ingin suatu saat nanti kita jalan-jalan ke Bali bersama, menikmati matahari tenggelam sambil makan malam dibibir pantai,” ucapnya sambil menoleh ke arahku.
“Kamu yakin?” tanyaku padanya
“Yes, let’s make it happen .”
Aku hanya tersenyum tipis, sembari berharap dalam hati.
Berharap Bali tak hanya menjadi masa lalu, dan masa kini

Bali mungkin bisa menjadi masa depanku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s