Sebuah Kalimat Tanya

Malam itu, dari jendela kamar hotel lantai 22.

Kuseduh segelas teh hangat sembari berdiri di dekat jendela besar

Mengarahkan pandang ke arah langit malam

Sayangnya langit malam sedang kosong, sunyi, dan sepi

Tak ada bintang bahkan bulan yang menghiasi

Kuarahkan mata melihat jalan raya yang kontras dengan langit malam hari

Masih cukup banyak kendaraan yang berlalu lalang,

Maklum lah, Malam Minggu

Biarkan mereka yang mempunyai, menikmati

 

“Kira-kira, dia masih ingat nggak ya kalau dulu…”

“Apa? Kencan malam memutari kota sambil naik motor bareng?”

“Iya,” ucapku singkat

“Jadi, masih kangen?”

“Ya nggak. Cuma penasaran saja, kalau dia lihat ada orang pacaran yang naik motor berdua bakal ingat momen waktu kita dulu nggak ya.” jawabku masih melihat lalu lalang kendaraan.

“Tanya saja langsung ke orangnya.”

“Yee, kamu pikir segampang itu apa?” ucapku kemudian menyeduh teh.

 

Aku mengambil ponselku, mengabadikan ramainya Malam Minggu di ibu kota.

Membuka Instagram dan mengunggahnyaa ke instastory.

Kutambahkan lokasiku saat itu.

 

Aku melangkah menjauhi jendela, mencegah perasaan campur aduk berkecamuk

Menghela nafas panjang dan menghempaskan tubuhku ke atas kasur king size

Kulihat langit-langit kamar hotelku.

 

Lucu ya lucu. Memori itu begitu kuat.

Saat perasaan sirna, ingatan itu belum tentu ikut terhapus

Bahkan ia yang lebih lama bertahan

Kalau dipikir lucu juga,

Memori membuatku melontarkan pertanyaan asumsi yang sebenarnya tak berarti

Yang ada malah menguras energi

Terus melontarkan kalimat tanya “apakah dia masih ingat kalau…” dan memikirkannya sehari penuh.

Entah pada orang lain atau diri sendiri.

Seharusnya bukankah sudah tak peduli?

Lucu memang, tapi itulah memori.

 

Bunyi notifikasi pesan direct message Instagramku berbunyi

Aku mengambilnya dan melihat pesan tersebut

Lagi di Jakarta? Sampai kapan?

Aku terkejut melihatnya mendorong tubuhku untuk duduk

Pesan darinya.

“Balas apa nih?” tanyaku pada sahabatku

“Ya jawab sesuai pertanyaannya lah.”

“Kalau itu sih sudah tahu,” balasku kesal

Iya, besok sudah balik kok. Hehe.

Sebuah kalimat pernyataan dengan tanda titik di akhir

Dan ‘hehe’ agar terlihat ramah.

Kemudian, aku memutuskan untuk menambahkan sebuah kalimat tanya.

Kenapa?

 

Bunyi notifikasi pesan masuk kembali.

Pesan darinya.

Sebuah kalimat jawaban dari pertanyaanku.

Dan disambung sebuah kalimat tanya.

Bagaimana kabarmu?

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s